Taqabbalallahu minna wa minkum, wa shiyamana wa shiyamakum.
Minal ‘aidin wal faizin.
Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Idul fitri identik dengan sholat Id dan silaturrahim. Tak heran jika setiap rumah tersulap menjadi surga makanan. Kali ini Idul Fitri bertepatan dengan hari Jumat. Namun tak berarti ada dispensasi untuk menggugurkan Shalat Jumat bagi kaum Adam. Di zaman yang serba modern, ditunjang dengan kecanggihan teknologi, semuanya menjadikan yang berat menjadi ringan dan yang sukar menjadi mudah. Sejauh apapun jarak masjid yang digunakan untuk shalat Jumat, namun tak memerlukan waktu yang panjang. Sehingga meskipun Idul Fitri kali ini bertepatan dengan hari Jumat, namun Shalat Jumat tetap dilaksanakan. Subhanallah betapa indahnya sehari terdapat dua khutbah. Yang artinya semakin banyak ilmu yang kita timba.

Budaya silaturrahim menjadi agenda terpenting di bulan Syawwal. Indahnya pertemuan sanak saudara, kerabat, tetangga, teman, bahkan famili jauh pun berusaha meluangkan waktunya untuk berbagi kebahagiaan di hari yang fitri.

Yang perlu disikapi di sini adalah adab, sopan-santun, dan tata krama bersilaturrahim. Orang Jawa menyebutnya sebagai “sowan”. Kegiatan sowan ini hendaknya dilakukan dengan “cekak aos”. Maksudnya adalah tidak terlalu lama berdialog di rumah si empunya.

Seringkali si empu rumah mengatakan “monggo di dugekake”. Itu artinya tamu yang sowan harus tahu diri untuk segera menutup dialog dan lekas bersalaman lalu pulang.

Akan tetapi, dewasa ini banyak generasi muda yang tak mengerti akan sopan santun yang harus diterapkan ketika sowan. Tak heran jikalau kebanyakan dari mereka berlama-lama dalam dialog, bahkan bersenda gurau.

Penghargaan Negeri ramah tamah kepada Indonesia makin lama makin aus, bahkan tak terdengar. Bagaimana tidak, jikalau generasi mudanya sendiri telah melupakan apa yang menjadi warisan kepribadian nenek moyang.

Tak ada yang patut disalahkan, kecuali diri sendiri untuk memperbaiki keadaan. Hendaknya berusaha untuk tetap melestarikan norma kesopanan “tepa selira” yang telah dipupuk oleh nenek moyang.

Iklan